For your plate, Halo konco luwe! Suasana Pasar Blauran Surabaya setiap pagi menyuguhkan kehidupan yang hidup dan penuh aroma kuliner khas. Di tengah hiruk-pikuk pasar tradisional ini, dua nama terus menggaet perhatian warga dan wisatawan: Depot Mini Jaya dengan soto Lamongan legendarisnya, serta Depot Hj. Rochman dengan lontong mie dan es dawet segarnya.
Kedua tempat ini bukan sekadar tempat makan, tetapi juga simbol warisan rasa dan perjuangan lintas generasi.
Depot Mini Jaya: Soto Lamongan dengan Sejarah yang Panjang
Depot Mini Jaya berdiri dengan sederhana di deretan kios Pasar Pelahuran. Namun aroma kuah sotonya langsung menyeruak begitu seseorang melintas di depannya. Semangkuk soto Lamongan panas dengan koya gurih, suwiran ayam empuk, dan kuah kekuningan tersaji dengan harga yang sangat bersahabat: Rp16.000 saja.
Pak Basori, pemilik Depot Mini Jaya sekarang, tidak memulai usahanya dari belakang meja dapur. Ia pernah menjalani hari-harinya sebagai kulibatu di sudut-sudut pembangunan kota Surabaya. Setiap sore, ia membantu ayahnya menjual soto di kios pasar. Ia menyaksikan langsung cara membuat soto Lamongan.
Pak Basori memilih meninggalkan dunia bangunan dan melanjutkan usaha soto Lamongan ini. Ia tidak mengubah resep, tidak mengganti cara penyajian, dan tetap mempertahankan kehangatan dalam setiap sendok kuahnya. Setiap pagi, ia menyiapkan ayam, merebus kuah, dan membuat koya sendiri dari kerupuk udang yang digoreng kering.
Pelanggan setia tetap berdatangan, bahkan beberapa membawa anak dan cucu mereka. Soto Depot Mini Jaya bukan hanya makanan, tetapi juga bagian dari rutinitas dan kenangan.
Depot Hj. Rochman: Lontong Mie dan Es Dawet yang Menyatu Sempurna
Tidak jauh dari Depot Mini Jaya, Depot Hj. Rochman menghadirkan cita rasa berbeda. Di tempat ini, pengunjung selalu memesan satu kombinasi wajib: lontong mie hangat dan es dawet segar.
Bu Nanik, menantu dari almarhumah Hj. Rochman, kini meneruskan usaha keluarga ini. Ia memegang kendali penuh, dari dapur hingga layanan pelanggan. Ia tidak sekadar menjaga nama, tetapi juga menjaga rasa dan konsistensi.
Setiap pagi, Bu Nanik merebus lontong dan mie kuning, menumis taoge segar, serta menyiapkan petis khas yang menjadi kunci rasa. Ia menuangkan kuah panas dengan cekatan, menaburkan bawang goreng, lalu menyajikannya bersama sambal merah yang menggoda. Pelanggan tidak pernah kecewa. Mereka duduk di bangku panjang sambil menunggu semangkuk kehangatan yang selalu memuaskan.
Es dawet buatan Depot Hj. Rochman pun tidak kalah ikonik. Dawet hijau yang kenyal berpadu dengan santan dingin dan gula merah cair, menciptakan rasa manis-gurih yang menyegarkan. Banyak pengunjung menyebut es dawet ini sebagai pendamping sempurna untuk menyapu rasa pedas dan gurih dari lontong mie.
Tradisi dan Rasa yang Terus Bertahan
Baik Depot Mini Jaya maupun Depot Hj. Rochman telah memasuki generasi kedua. Keduanya tidak mencari cara instan atau perubahan drastis. Mereka menjaga rasa, mengikuti ritme pasar, dan mendengarkan pelanggan.
Pasar Pelahuran mungkin terus berubah. Namun dua nama ini tetap berdiri, tetap menyajikan rasa yang jujur, dan tetap menjadi magnet bagi para pencinta kuliner tradisional. Setiap pagi, suara hiruk-pikuk pasar berbaur dengan aroma soto dan lontong mie. Dan setiap pelanggan yang datang selalu pulang dengan senyum puas dan keinginan untuk kembali.
