Capar Tape

For your plate, Halo konco luwe! Tulungagung menyimpan banyak kekayaan kuliner tradisional yang belum banyak dikenal luas. Salah satu camilan unik yang mencuri perhatian ialah Capar Tape. Makanan ini menggabungkan tape singkong, parutan kelapa muda, dan gula merah menjadi sajian yang legit, gurih, dan menyegarkan. Masyarakat setempat mengolah Capar Tape sebagai kudapan harian, hidangan saat hajatan, hingga sajian untuk tamu istimewa.

Capar Tape bukan sekadar makanan ringan. Di balik kelezatannya, camilan ini menyimpan sejarah budaya, kreativitas masyarakat desa, dan warisan kuliner yang terus bertahan lintas generasi. Rasanya unik, teksturnya lembut, dan tampilannya sederhana namun memikat. Tulungagung memang tidak pernah kehabisan cara dalam meracik makanan dari bahan-bahan lokal.

Bahan Dasar dan Ciri Khas Capar Tape

Capar Tape
Sumber: PDBI

Capar Tape menggunakan tape singkong sebagai bahan utamanya. Tape ini berasal dari singkong yang telah difermentasi selama dua hingga tiga hari. Masyarakat Tulungagung memilih singkong lokal yang memiliki kadar pati tinggi agar hasil fermentasi lebih lembut dan manis. Tape singkong lalu dicampur dengan parutan kelapa muda yang masih segar dan manis alami.

Sebagai pemanis alami, perajin Capar Tape menambahkan siraman gula merah cair atau kadang juga menggunakan gula aren. Paduan ini menciptakan perpaduan rasa yang khas: asam-manis dari tape, gurih dari kelapa, dan legit dari gula merah. Tekstur lembut tape menyatu dengan renyahnya kelapa dan manis kental sirup gula, menghasilkan sensasi yang kaya di setiap suapan.

Masyarakat biasa menyajikan Capar Tape dalam wadah sederhana, seperti pincuk dari daun pisang atau mangkuk kecil. Wadah alami ini semakin memperkuat nuansa tradisional yang melekat pada makanan ini.

Proses Pembuatan Capar Tape yang Mengandalkan Kearifan Lokal

Proses pembuatan Capar Tape dimulai dari pemilihan singkong berkualitas. Warga mengupas singkong, mencuci hingga bersih, lalu merebusnya setengah matang. Setelah dingin, mereka menaburkan ragi tape secara merata dan menyimpannya dalam wadah tertutup selama dua atau tiga hari agar fermentasi terjadi secara sempurna.

Sementara menunggu tape siap, mereka memarut kelapa muda dengan alat tradisional. Kelapa ini menjadi unsur penting dalam cita rasa Capar Tape, sehingga para ibu rumah tangga memilih kelapa yang masih muda dan tidak terlalu keras. Kelapa tua tidak akan memberikan rasa gurih segar yang diinginkan.

Gula merah atau gula aren dipanaskan bersama sedikit air hingga mencair. Masyarakat menyaring cairan ini agar kotoran atau serat kasar tidak masuk ke dalam sajian. Setelah semua bahan siap, mereka mencampur tape dengan kelapa, lalu menyiramnya dengan gula cair sebelum menyajikannya.

Proses ini terlihat sederhana, tetapi membutuhkan ketelatenan dan kepekaan terhadap rasa. Setiap langkah menuntut perhatian agar hasil akhir tetap konsisten dari segi rasa dan kualitas.

Makna Sosial dan Budaya Capar Tape

Capar Tape
Sumber: Cookpad/djanara.homecook

Capar Tape tidak hanya hadir sebagai camilan, tetapi juga menjadi bagian dari tradisi sosial di Tulungagung. Warga menyajikannya dalam berbagai acara keluarga seperti syukuran, selamatan, hingga acara hajatan. Makanan ini menjadi simbol keramahan dan kebersamaan karena disajikan dalam porsi kecil yang dinikmati bersama.

Banyak keluarga menurunkan resep Capar Tape dari generasi ke generasi. Ibu mengajarkan cara membuat tape, meracik kelapa, dan mengolah gula kepada anak-anaknya sejak dini. Tradisi ini mencerminkan nilai gotong royong, kesederhanaan, dan kecintaan terhadap kekayaan lokal.

Beberapa pelaku UMKM bahkan mulai memasarkan Capar Tape dalam bentuk kemasan modern. Mereka menjualnya di pasar oleh-oleh atau menjajakan lewat media sosial. Bentuknya tetap sederhana, tetapi kemasannya lebih menarik dan praktis. Langkah ini memberi peluang bagi camilan tradisional ini untuk dikenal lebih luas di luar Tulungagung.

Potensi Ekonomi Capar Tape untuk Generasi Muda

Capar Tape menyimpan potensi bisnis yang sangat menjanjikan. Dengan bahan baku lokal yang mudah didapat, biaya produksi bisa ditekan tanpa mengorbankan kualitas. Generasi muda Tulungagung bisa menjadikan Capar Tape sebagai produk unggulan daerah dengan menambahkan inovasi kemasan dan pemasaran digital.

Kreativitas generasi milenial bisa menghadirkan varian rasa baru seperti Capar Tape keju, cokelat, atau topping kacang. Kombinasi tradisional dan modern ini mampu menarik minat pasar anak muda sekaligus mempertahankan nilai budaya lokal.

Capar Tape Khas Tulungagung bukan sekadar camilan, melainkan representasi budaya, kebijaksanaan lokal, dan rasa cinta masyarakat terhadap kekayaan alam mereka. Perpaduan tape singkong, kelapa muda, dan gula merah berhasil menciptakan harmoni rasa yang menggoda. Cita rasanya sederhana, tetapi meninggalkan kesan mendalam di lidah dan hati siapa saja yang mencicipinya. Kini saatnya mengenalkan Capar Tape kepada lebih banyak orang sebagai camilan khas Tulungagung yang wajib dicoba.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *