Mie Gomak

FOR YOUR PLATEHalo Konco Luwe! Mie gomak muncul dari kawasan pesisir Danau Toba, Sumatera Utara, saat masyarakat mulai bosan makan ubi hasil panen melimpah. Warna oranye khas dari bumbu andaliman memperkuat rasa pedas menyengat yang jadi ciri khasnya. Tradisi menyajikan mie dengan meremas pakai tangan memberi nama “gomak” yang masih terkenal sampai sekarang.

Mie Gomak Khas Batak
Sumber: CookPad (Eru Lase)

Dari Ubi Jadi Mie Gomak

Awalnya, warga mengolah ubi jadi bahan utama mie karena bahan itu melimpah dan mudah tersimpan. Proses memasak memakai tangan mewakili budaya sederhana tapi kuat nilai gotong royong. Namun sekarang, kebiasaan itu mulai terganti karena pedagang lebih suka sajikan secara bersih dan cepat.

Kemudian, mie gomak beralih pakai mie lidi yang bentuknya mirip spageti tapi lebih tebal dan kenyal. Tekstur itu cocok dipadukan dengan kuah santan dan sayur labu yang gurih. Rempah andaliman juga menambah sensasi pedas menggigit, membuat lidah ketagihan.

Citra Tradisional Kini Terangkat

Dulu, mie gomak kerap dianggap makanan kampungan dan cocok untuk kalangan bawah. Masyarakat kota juga enggan mencoba karena sajian tradisional itu terlihat sederhana. Namun seiring waktu, anggapan itu berubah karena banyak orang mulai kenali nilai budaya di balik cita rasa.

Kini, banyak orang muda dari luar Sumatera Utara mulai gemar makan mie gomak karena penasaran sama sensasi unik andaliman. Bahkan, beberapa influencer kuliner ikut unggah ulasan mie gomak sebagai mie lokal yang beda dari spageti pada umumnya. Mereka merasa mie ini punya karakter khas dan cocok dijadikan santapan santai atau sarapan.

Dari Dapur Rumah Sampai Festival

Pedagang kaki lima hingga restoran khas Batak berlomba sajikan mie gomak dalam dua versi: goreng dan kuah. Banyak yang menambah lauk seperti telur rebus, tempe goreng, atau kerupuk udang biar makin lengkap. Rasa lokal tetap jadi inti, walau tampilan sudah makin kekinian dan bersih.

Selain itu, komunitas Batak rutin gelar festival kuliner dan mie gomak selalu jadi menu utama. Anak muda Batak yang merantau juga sering promosiin makanan ini lewat media sosial. Karena itu, makanan tradisional ini makin terkenal sampai luar pulau Sumatera.

“Makanya disebut ‘gomak’, karena dulu ambil mie pakai tangan langsung,” jelas Yanur, penjual mie gomak di Pasar Balige. Yanur menyebut cara itu kini sudah jarang karena pembeli lebih suka sajian bersih. “Sekarang kami sajikan pakai sendok nasi atau piring kecil,” katanya kepada Detik Travel.

Rasa Lokal dengan Gaya Global

Mie gomak awalnya dari ubi, kini dari tepung terigu. Andaliman jadi rempah lokal yang bikin rasa pedas khas. Satu porsi terjual mulai Rp 5.000 untuk yang kecil dan Rp 10.000 untuk porsi besar di Sumatera Utara.

Saat ini, mie gomak makin mudah ditemukan di kota besar seperti Medan, Jakarta, bahkan Surabaya. Beberapa kafe khas Sumatera Utara bahkan menyajikan mie ini sebagai menu fusion bareng kopi lokal. Makanan ini membuktikan kalau warisan kuliner bisa terus bertahan asal tetap relevan dan berani berinovasi.

FAQ

Q: Apa itu spageti khas Batak yang orang sebut unik?
A: Jenis mie lokal ini berasal dari daerah Danau Toba, memakai bahan sederhana tapi mengusung rasa kuat lewat rempah andaliman. Bentuknya menyerupai spageti, tapi terasa lebih tebal dan kenyal.

Q: Kenapa banyak orang anggap beda dari mie lain?
A: Karena warga awalnya sajikan pakai tangan langsung, lalu racik pakai rempah lokal yang jarang orang kenal. Sensasi pedas muncul kuat karena penggunaan andaliman.

Q: Bisa orang temukan di luar Sumatera Utara?
A: Bisa. Sekarang banyak warung dan kafe di kota besar seperti Medan, Jakarta, hingga Surabaya yang jual menu khas ini secara praktis dan modern.

Q: Ada versi selain yang berkuah?
A: Ada. Selain kuah santan, banyak penjual tawarkan versi goreng yang lebih ringan dan gampang orang santap kapan pun, lengkap dengan telur, tempe, atau kerupuk.

Q: Apakah harganya masih terjangkau?
A: Untuk porsi kecil, harga mulai dari Rp 5.000, sedangkan versi lengkap sekitar Rp 10.000. Harga bisa naik kalau penjual sajikan di kota besar atau tempat kekinian.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *