For your plate, Halo konco luwe! Jalanan Jatirogo mulai ramai saat senja datang. Suara wajan, aroma tahu goreng, dan kepulan asap dari dapur warung sederhana itu menandai satu hal: Lontong Tahu Gerdu Jatirogo telah buka. Sejak pukul lima sore, pelanggan satu per satu datang dan mengantre dengan sabar. Mereka tahu, setiap porsi lontong tahu tidak bisa datang cepat—karena di warung ini, setiap sajian lahir dengan penuh ketelitian.
Sri Wahyuti dan suaminya berdiri di balik meja. Mereka tidak pernah terburu-buru saat meracik lontong tahu. Mereka mengulek bumbu langsung di atas cobek batu begitu pelanggan memesan. Setiap piring tersaji satu per satu, tanpa jalan pintas.
Warisan Cita Rasa yang Tidak Pernah Terganti

Lontong Tahu Gerdu Jatirogo lahir dari dapur kecil di rumah keluarga Sri. Ibunya memulai usaha ini dengan semangat menjaga resep tradisional. Kini, Sri dan suaminya melanjutkan perjuangan itu tanpa mengurangi satu langkah pun dari resep asli. Mereka tetap merebus lontong sendiri. Mereka juga memotong dan menggoreng tahu setiap hari. Tidak satu pun bahan datang dari supplier luar.
Semua proses berlangsung di rumah sebelum warung dibuka. Pukul tiga sore, Sri dan suaminya mulai menggoreng tahu, merebus lontong, dan menyiapkan bahan-bahan segar untuk bumbu kacang. Saat jarum jam menunjuk pukul lima sore, meja kayu di depan rumah berubah menjadi pusat keramaian malam Jatirogo.
Pelanggan datang dari berbagai penjuru. Ada pekerja yang pulang dari sawah, mahasiswa rantau yang pulang kampung, hingga warga luar kota yang pernah mencicipi lontong tahu legendaris ini. Mereka tahu, proses penyajian berlangsung cukup lama. Tapi mereka juga tahu, tidak ada rasa instan yang bisa menyaingi bumbu kacang yang baru saja diulek, lengkap dengan cabai, garam, petis, dan sedikit perasan jeruk purut.
Beberapa pelanggan memilih lontong tahu polos seharga Rp10.000, sementara lainnya memesan lontong tahu telur dengan tambahan dadar hangat yang harganya Rp15.000. Porsinya cukup besar dan memuaskan, lengkap dengan kerupuk dan taburan bawang goreng.
Malam di Jatirogo Tak Lengkap Tanpa Lontong Tahu

Saat kota mulai tidur, warung Lontong Tahu Jatirogo justru memuncak dalam kesibukan. Suara ulekan di cobek batu terus terdengar. Tangan Sri dan suaminya tidak pernah berhenti bekerja. Mereka melayani dengan ramah, tanpa tergesa. Mereka tidak pernah menyimpan bumbu untuk esok hari. Setiap malam, mereka memulai segalanya dari awal.
Semangat menjaga keaslian rasa itu membuat warung ini bertahan selama lebih dari dua dekade. Tidak banyak tempat makan yang sanggup mempertahankan metode manual di tengah gelombang makanan cepat saji. Tapi di sini, kesabaran selalu sebanding dengan hasilnya.
FAQ
1.Apa itu Lontong Tahu Jatirogo?
Lontong Tahu Jatirogo merupakan warung makan legendaris di Kecamatan Jatirogo, Tuban, yang menyajikan lontong tahu khas Jawa Timur dengan racikan bumbu kacang buatan sendiri. Warung ini telah berjualan sejak 25 tahun lalu dan kini dikelola oleh Sri Wahyuti dan suaminya.
2.Warung ini buka jam berapa?
Warung hanya buka pada malam hari, tepatnya mulai pukul 17.00 WIB hingga malam. Waktu buka ini konsisten sejak awal berdiri dan menjadi ciri khasnya.
3. Apa saja menu yang tersedia dan berapa harganya?
Warung ini menyajikan dua menu utama:
- Lontong Tahu Polos: Rp10.000
- Lontong Tahu Telur (dengan tambahan telur dadar): Rp15.000