Lontong Balap

FOR YOUR PLATE – Halo Konco Luwe, Lontong Balap Surabaya pertama kali di buat saat para pedagang keliling berjalan cepat setengah berlari demi menarik pembeli. Hidangan ini kemudian berkembang jadi ikon kuliner khas Kota Pahlawan yang menggugah selera lintas generasi. Wow, sejarah dan cara jualannya berhasil mengubah citra dari sekadar makanan jalanan menjadi warisan kebanggaan lokal.

Berawal dari kawasan Kutisari dan Kendangsari di awal abad kedua puluh, lontong balap jajakan dengan cara dipikul oleh pedagang yang berjalan cepat. Aksi tersebut bertujuan supaya tidak kalah cepat dari pedagang lain dan bisa menarik pembeli lebih dulu. Karena terlihat seperti balapan, masyarakat setempat mulai menyebutnya sebagai lontong balap.

Fakta Sejarah Lontong Balap

Lontong Balap

Sumber Pinterest

Dalam satu porsi, pembeli mendapatkan lontong, tauge, tahu goreng, lentho, dan kuah bening yang khas. Semua bahan tersiram sambal petis, bawang goreng, serta kecap manis sehingga menciptakan rasa yang kuat dan berbeda dari lontong biasa. Lentho sebagai pelengkap, berasal dari kacang tolo yang sudah lumat dan sudah berbentuk padat sebelum masuk penggorengan.

Awalnya makanan ini sering dipandang rendah karena dijual di pinggir jalan dan dianggap tidak bersih. Namun kini, lontong balap justru populer ke berbagai festival makanan nasional dan menjadi kuliner wajib coba di Surabaya. Transisi ini membuktikan bahwa kualitas rasa dan nilai budaya mampu menghapus stigma lama.

Sisi Menarik

Cerita menarik datang dari Sisno, generasi ketiga penerus Lontong Balap Cak Pri yang tetap eksis sejak tahun 1958. Cak Pri mengatakan bahwa penjual dulu sempat memakai sepeda untuk berjualan, dan tetap orang menyebut “balap” karena gesitnya pelayanan. Kutipan tersebut diambil dari wawancara Sisno dalam Kompas edisi September 2020.


Saat ini, lontong balap mudah ditemukan di kawasan Kranggan, Pasar Wonokromo, hingga pedagang keliling yang masih mempertahankan tradisi. Harganya pun terjangkau, berkisar antara sepuluh ribu hingga delapan belas ribu rupiah per porsi, sehingga jadi pilihan utama oleh anak muda dan pekerja kota. Keberadaan menu ini tetap relevan karena mampu beradaptasi tanpa meninggalkan ciri khasnya.

Lontong balap tidak hanya menyimpan sejarah kuliner, tetapi juga mencerminkan semangat kerja keras dan keunikan budaya urban Surabaya. Tradisi menjajakan dengan berlari atau bersepeda kini menjadi cerita yang membangun identitas makanan ini. Dengan semua elemen tersebut, lontong balap layak  sebagai legenda kuliner yang bangkit dari stigma menjadi simbol kebanggaan masyarakat Jawa Timur.

FAQ 

  1. Apa itu lontong balap?
    Lontong balap adalah makanan khas Surabaya yang berisi lontong, tauge, tahu goreng, lentho, kuah bening, bawang goreng, petis, dan kecap. Cita rasanya gurih manis dengan aroma petis yang khas.
  2. Kenapa orang menyebutnya “lontong balap”?
    Nama “balap” muncul karena dulu para penjual berjalan cepat bahkan lari kecil sambil memikul dagangan agar tidak kalah saing rebut pembeli. Gerakan itu mirip orang balapan, lalu mendapat julukan “lontong balap”.
  3. Apa bedanya makanan ini dengan lontong sayur?
    Lontong balap pakai kuah bening dan lentho, bukan santan seperti lontong sayur. Selain itu, lontong balap pakai petis khas Surabaya yang memberi cita rasa unik dan berbeda total dari lontong khas daerah lain.
  4. Apakah termasuk makanan sehat?
    Ya, mengandung sayuran seperti tauge dan sumber protein dari tahu serta lentho. Namun, kandungan petis dan gorengan tetap perlu konsumsi dengan porsi seimbang.
  5. Di mana bisa menemukan makanan ini yang legendaris?
    Beberapa lokasi populer ada di Jalan Kranggan, Wonokromo, dan warung Lontong Balap Cak Pri atau Pak Gendut. Versi legendaris ini sudah terkenal sejak tahun 1950-an.
  6. Benarkah makanan ini dulu orang menganggap “makanan rakyat kecil”?
    Ya, dulunya di anggap makanan jalanan dan kurang higienis. Tapi sekarang, persepsinya berubah jadi makanan kebanggaan Surabaya ke festival nasional.
  7. Siapa tokoh yang ikut menjaga warisan makanan ini?
    Salah satunya Sisno, generasi ketiga dari Lontong Balap Cak Pri, yang konsisten mempertahankan resep dan cara penyajian sejak 1958. Kisahnya di tulis Kompas dalam liputan tahun 2020.
  8. Apakah makanan ini cocok untuk anak muda dan Gen Z?
    Banget. Rasanya unik, harganya ramah kantong, dan penuh cerita historis. Bahkan banyak food vlogger dan akun kuliner lokal yang merekomendasikan lontong balap sebagai “kuliner wajib coba” di Surabaya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *